Kunjungan Rumah Ibadah

Ketua FKUB Kab. Aceh Timur dan KaKUA Kec. Idi Rayeuk, sedang mengecek lokasi Rumah Ibadah di Kec. Idi Rayeuk.

Kunjungan Rumah Ibadah

Pengecekan dan pengukuran laus bangunan Rumah Ibadah di Kecamatan Idi Rayeuk.

Kunjungan Rumah Ibadah

Pengecekan dan pengukuran laus bangunan Rumah Ibadah di Kecamatan Idi Rayeuk.

Kunjungan Rumah Ibadah

Pengecekan dan pengukuran laus bangunan Rumah Ibadah di Kecamatan Idi Rayeuk.

Sosialisasi

Sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Permendagri No. 9 dan 8 Tahun 2006.

Selasa, 03 Juni 2014

MASJID BAITUL AIZAM DIRESMIKAN



Oleh : JAKFAR, S.Sos.I
(Penyelenggara Syari’ah Kankemenag / Bendahara FKUB Kabupaten Aceh Timur)


Aceh Timur. Tepatnya pada hari Jum’at Tanggal 08 Maret 2013 bertepatnya dengan tanggal 25 Rabiul Akhir 1434 H Masjid Baitul Aizam Gampong Seumali kecamatan Ranto  Peureulak Kabupaten Aceh Timur diresmikan penggunaannya untuk pelaksanaan shalat Jum’at. 

Acara yang dimulai pada pukul 11.00 Wib Siang, selesai pembacaan Ayat-ayat Suci Al-Qur’annul Karim, dilanjutkan dengan acara peusijuk (tepung Tawar)   yang   pertama dilakukan  oleh   Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Timur (Tgk. H. Bukhari Hasan), kemudian dilanjutkan oleh Sdr. Jakfar, S.Sos.I, mewakili kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur, dan yang ketiga dilakukan oleh Sdr. Drs. Salahuddin (Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Ranto Peureulak).
Selesai acara peusijuk (tepung Tawar), dilanjutkan dengan laporan Geuchik Gampong Seumali selaku  Ketua Panitia Pembangunan Masjid, menyatakan bahwa keinginan seluruh warga masyarakat Gampong Seumali untuk mendirikan sebuah masjid didesanya sudah cukup lama, namun hasratnya baru tercapai pada tahun 2007 yang dimulai peletakan Batu Pertamanya dilakukan oleh Tgk. H. Bukhari Hasan (Ketua MPU Kabupaten Aceh Timur) dan kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Aceh Timur, yang pada masa itu dijabat oleh                Drs. H. Ibnu Sa’dan, M.Pd, yang sekarang menjabat Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh.
Selanjutnya sambutan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur yang diwakili oleh Sdr. Jakfar, S.Sos.I selaku penyelenggara Syari’ah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur, meyatakan bahwa Masjid adalah Rumah Allah, Masjid sebagai pusat aktivitas umat islam, mempunyai potensi daya dorong yang sangat kuat bagi Pembangunan Nasional, karena masjid mempunyai fungsi ganda, baik sebagai tempat ibadah dan ber-ubudiyah kepada Allah SWT juga masjid  sebagai tempat / sarana Pendidikan, Pendirian Perpustakaan Pelayanan Kesehatan dan Penasehatan Perkawinan dan Keluarga.
Lebih lanjut Sdr Jakfar menyatakan bahwa, dalam mendirikan sebuah masjid ada 3 (tiga) unsur/sasaran yang harus benar-benar diperhatikan :

Pertama adalah bidang Idarah yaitu segala aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan masjid, mulai sejak perencanaan, pengorganisasian, pengadiministrasian sampai kepada pengelolaan keuangan.

Kedua adalah bidang  Imarah yaitu segala aktivitas dalam rangka memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah dan pembinaan umat. Dan

Ketiga adalah bidang Ria’yah yaitu segala aktivitas yang berhubungan dengan pemeliharaan masjid, baik segi bangunan, desain, Arsitektur keindahan, kebersihan dan lain sebagainya yang bersifat fisik. Demikian ucap Sdr. Jakfar.
Selanjutnya sambutan Camat Ranto Peureulak (Drs. Zulbahri, M.AP) sekaliagus peresmian Masjid, dalam arahannya camat mengajak semua warganya agar benar-benar menjaga dan memelihara masjid yang telah bersusah payah dibangunnya tersebut, dan mengharapkan kepada semua unsur Panitia Pembangunan  Masjid supaya bersungguh-sungguh mencari dana / bantuan yang sifatnya sah dan tidak mengikat, untuk menyempurnakan pembangunan masjid Baitul Aizam dimaksud, dan dalam kesempatan tersebut Camat  Drs. Zulbahri, M.AP atas nama pribadi, turut membantu 10 (sepuluh) sak semen untuk kelanjutan pembangunan masjid tersebut yang pada saat peresmian dihadiri oleh seluruh unsur Muspika Ranto Peureulak, tokoh masyarakat, unsur Kementerian  Agama Kabupaten Aceh Timur dan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Timur.
Selesai acara peresmian, dilanjutkan dengan shalat jum’at bersama, yang bertindak sebagai Khatib Perdana, langsung di khatibi oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Timur (Tgk. H. Buhkari Hasan) yang akrap disapa Ayah Leuge, dalam Tausiah Khutbahnya, Tgk. H. Bukhari Hasan, mengajak semua masyarakat Gampong Seumali dan sekitarnya untuk memakmurkan masjid Baitu Aizam tersebut, terutama mendirikan shalat Rawatib,  dan menyinari masjid dengan berbagai syiar Agama dan menjelaskan berbagai hadist-hadist Rasulullan SAW yang mengisyaratkan bahwa barang siapa yang berbuat baik dengan hati yang tulus dan ikhlas terhadap masjid akan dibalas olelh Allah berlipat ganda pahalanya walaupun dengan hanya sekali menyapu debu dalam masjid, akan dibalas oleh Allah pahalanya ibarat maskawin (jeuname) kepada seorang bidadari dalam syurga di Yaumil Qiyamah kelak nantinya demikian ucap Tgk. H. Buhkari Hasan, yang juga Pimpinan Pondok Pesantren “Assasul Islamiyah” Leuge Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur.
Dan selesai acara shalat jum’at, panitia pembangunan masjid menjamu seluruh jama’ah shalat jum’at kenduri / makan siang bersama yang pusatkan di meunasah Gampong Seumali Kecamatan Ranto Peureulak yang penuh dengan keakraban dan kekeluargaan.

Syariat Islam Bukan Untuk Menggagnggu Kenyamanan

 
Ketua Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) Kabupaten Aceh Timur Tgk. H. Azharuddin. BTM, S.Pd mengatakan, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin sangat menjunjung tinggi perbedaan dalam bentuk apapun. Termasuk perbedaan dalam keyakinan, tidak boleh ada pemaksaan, dan tidak dibenarkan memusuhi umat yang bergama lain.

Petunjuk dalam menghadapi perbedaan tersebut sudah cukup jelas tercantum dalam Al Quran, yakni apa yang terdapat dalam ayat terakhir surat Al Kafirun. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” demikian kutipan maknanya ayat tersebut.

Penjelasan itu disampaikan Tgk Asharuddin dari Dayah BTM Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur, supaya semua pihak dapat memahami bagaimana sikap Islam yang sebenarnya terhadap perbedaan. Agar umat beragama lain jangan salah mempersepsikan tentang Islam, dan umat Islam sendiri pun jangan sampai ada yang bertindak atas nama agama untuk menganiaya atau menghina umat yang beragama lain.

Mengenai penerapan Syariat Islam di Aceh, kata Tgk Asharuddin, tujuannya bukan untuk menciptakan ketidaknyamanan. Melainkan untuk memberi kenyamanan yang lebih baik bagi seluruh warga masyarakat yang ada di Aceh, baik untuk masyarakat setempat maupun untuk para pendatang.

Jika selama ini ada daerah-daerah di Aceh yang mempraktekkan pelaksanaan Syariat Islam sehingga membuat warganya tidak nyaman, menurut Tgk Asharuddin, itu ada yang salah dalam penerapannya. Maka itu pihak pemerintah setempat melalui Dinas Syariat Islamnya perlu melakukan evaluasi, agar nama agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin jangan sampai ternodai dengan tingkah polah umatnya yang masih kurang memahami tentang agama Islam itu sendiri.

Menurut Tgk Asharuddin, penerapan Syariat Islam baru bisa menjadi rahmat jika pelaksanaannya dilakukan secara menyeluruh atau secara kaffah. Namun bila dilakukan setengah-setengah atau pilih-pilih dalam penerapannya, itu malah akan membawa bencana. Bahkan dengan begitu bisa-bisa Islam akan dibenci oleh orang-orang yang mulai tertarik dengan agama Islam, demikian katanya.

Jumat, 09 Mei 2014


Kamis, 08 Mei 2014









Senin, 05 Mei 2014

Sejarah Kabupaten Aceh Timur

Kabupaten Aceh Timur adalah sebuah kabupaten yang berada di sisi timur Aceh, Indonesia. Kabupaten ini juga termasuk kabupaten kaya minyak selain Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Kawasan ini juga termasuk basis Gerakan Aceh Merdeka sebelum diberlakukannya Darurat Militer sejak Mei 2003. Sebelum penerapan Darurat Militer ini, kawasan Aceh Timur termasuk kawasan hitam, terutama di kawasan Peureulak dan sekitarnya.

Pemindahan Ibukota
Sebelumnya ibukota Kabupaten Aceh Timur adalah Kota Langsa tetapi dengan disetujui UU No. 3 Tahun 2001, ibukota Kabupaten Aceh Timur dipindahkan ke Idi yang berpenduduk sekitar 34.282 jiwa (Sensus Penduduk Tahun 2010).

Profil Daerah Aceh Timur
Kabupaten Aceh Timur terletak pada koordinat 4°09 5°16 Lintang Utara dan 97°13 98°02 Bujur Timur. Batas batas wilayah Aceh Timur adalah sebagai berikut :
" Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara dan Selat Malaka " Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues " Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang " Sebelah Barat berbatasan Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Kabupaten Aceh Timur Memiliki Luas wilayah sebesar 6.040,60 Km², secara administratif Kabupaten Aceh Timur terdiri dari 24 Kecamatan, 512 Desa / Gampong, 1 Kelurahan dan 1596 Dusun. Nama nama Kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Timur adalah Kecamatan Simpang Ulim,kecamatan Julok, Kecamatan Nurussalam, Kecamatan Darul Aman, Kecamatan idi Rayeuk, Kecamatan Peureulak, Kecamatan Rantau Selamat, Kecamatan Birem Bayeun, Kecamatan Serba Jadi, Kecamatan Rantau Peureulak, Kecamatan Pante Bidari, Kecamatan Madat, Kecamatan Indra Makmur, Kecamatan Idi Tunong, Kecamatan Banda Alam, Kecamatan Peudawa, Kecamatan Peurelak Timur, Kecamatan Peurelak Barat, Kecamatan Sungai Raya, Kecamatan Simpang Jernih, Kecamatan Darul Ihsan, Kecamatan Peunaron, Kecamatan Idi Timur, dan Kecamatan Darul Falah
Secara umum Kabupaten Aceh Timur merupakan dataran rendah, perbukitan, sebagian berawa-rawa dan hutan mangrove, dengan ketinggian berada 0-308 m diatas permukaan laut. Keadaan tofografi faerah Kabupaten Aceh Timur dikelompokan atas 4 kelas lereng yaitu : 0-2%, 2-15%, 5-40% dan > 40%. Dilihat dari penyebaran lereng tersebut yaitu memiliki kemiringan lereng >40% hanya sebesar 6,7% yaitu meliputi Kecamatan Birem Bayeun dan Serbajadi. Sedangkan wilayah yang memiliki kemiringan lereng 0-2%,2-15% dan 5-40% meliputi seluruh Kecamatan
Komoditi unggulan Kabupaten Aceh Timur yaitu sektor pertanian dan jasa. Sektor pertanian komoditi unggulannya adalah sub sektor tanaman perkebunan dengan komoditi Kelapa Sawit, Kakao, Karet, Kopi dan Kelapa Sub sektor pertanian komoditi yang diunggulkan berupa Jagung dan Ubi kayu, Pariwisatanya yaitu wisata alam, wisata adat dan budaya.
Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di Kabupaten Ini Tersedia 1 Pelabuhan Industri, yaitu Pelabuhan Pelabuhan Idi, Di Provinsi ini juga terdapat tiga jalan, Yaitu jalan Negara, jalan kabupaten dan jalan Provinsi. Panjang Jalan Provinsi adalah 89 km, panjang jalan kebupaten adalah 1.100 km dan panjang jalan negara adalah 102 km. Untuk industri tersedia 6 kawasan industri, yaitu Kawasan Industri UMKM Pisang Sale, Kawasan Industri Kelapa Terpadu, Kawasan Industri Pengolahan Rotan, Kawasan Industri Agro dan Perikanan, Kawasan Industri Kelapa Terpadu Timur (KITAT) dan Kawasan Industri Migas Pertambangan dan Energi yang didukung juga oleh fasilitas listrik dan telekomunikasi.

Batas wilayah
Kota Langsa
Kabupaten Aceh Utara

Daftar Bupati
No.
Nama Bupati
Masa Jabatan
1
1945-1946
2
1946
3
1946
4
1946-1948
5
1948-1952
6
1952
7
1952-1953
8
1953-1954
9
1954-1955
10
1955-1956
11
1956-1958
12
1958-1959
13
1959-1967
14
1967
15
1967-1973
16
1973-1977
17
1977-1983
18
1983-1984
19
1984-1989
20
1989-1994
21
1994-1999
22
1999-2006
23
2006-2007
24
2007-2012
25
2012-sekarang

Pemekaran
Sejak tahun 2000, daerah Aceh Timur mengalami pembagian yang ditujukan agar pembangunan kawasan itu merata. Kabupaten hasil pemekaran itu antara lain:

Referensi
1.      ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Timur


Perjuangan Masa Penjajahan Jepang 
            Pada tanggal 12 maret 1942, pasukan tentara Jepang mendarat dipantai Kuala Bugak Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, selanjutnya menyebar seluruh penjuru Aceh Timur dan daerah sekitarnya.
Masa penjajahan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat yang tidak manusiawi, akibatnya timbullah perlawanan/pemberontakan rakyat.
Setelah Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu pada tanggal 10 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat, atas inisiatif dari pemuka-pemuka masyarakat di Langsa, Idi dan beberapa kota lainnya, mengadakan permusyawaratan untuk melakukan perlawanan terhadap bala tentara Jepang secara bersama dan terkoordinir.
Dibawah pimpinan Oesman Adamy (O.A) dan dibantu oleh sejumlah pemuda yang begitu bersemangat, mengerahkan rakyat disetiap kota guna menyerbu tangsi Jepang. Pada penyerbuan pagi hari, tanggal 5 Desember 1945 rakyat berhasil merebut sejumlah senjata, peluru dan amunisi, kemudian pada tanggal 8 Desember 1945 dibawah pimpinan Mayor Bachtiar juga rakyat mampu merebut senjata, peluru dan amunisi, selanjutnya kesemua rampasan senjata tersebut dibagikan kepada rakyat/pemuda yang dikenal dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I) dibentuk pada awal oktober 1945, atas prakarsa pemuda bekas tentara jepang yang bergabung dalam GIU GUN, HEIHO, TOKOBETSU dan lain-lain.
Sejalan dengan lahirnya API di Aceh, maka secara nasional di Jakarta diresmikan suatau organisasi kemiliteran dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI sekarang. setelah tentara Jepang kalah perang dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu, mereka ditarik ke daerah Sumatera Utara dipusatkan di Medan.
Pada tanggal 18 Desember 1945 tentara Jepang mengadakan penyerbuan ke Aceh Timur dengan persenjataan yang serba lengkap, namun tetap mendapat perlawanan dari rakyat dan TKR dengan menghadangnya didaerah Halaban Sumatera Utara, pada pertempuran ini tentara Jepang tidak sampai ke Aceh Timur dan kembali ke Medan. Berselang satu minggu, yaitu tanggal 24 Desember 1945 tentara Jepang kembali mengadakan penyerbuan disertai jumlah personil yang lebih besar dengan persenjataan yang lebih lengkap, dipimpin oleh seorang jenderal bernama Nakamura.
Kekuatan senjata yang tidak seimbang, mengakibatkan tidak mampunya pasukan TKR dan rakyat menghadapi bala tentara Jepang diperbatasan Sumatera Utara - Aceh. Didasari semangat juang rakyat begitu tinggi, maka pasukan bala tentara Jepang tetap mendapat perlawanan sepanjang jalan raya antara Kuala Simpang - Langsa (Meudang Ara, Bukit Meutuah, Sei Lueng) dibawah pimpinan Mayor Bachtiar.
Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan TKR dan rakyat begitu gigihnya, sehingga sejumlah pasukan TKR dan rakyat gugur, terpaksa pasukan TKR dan rakyat mundur sampai dipertahanan Bukit Rata, Bukit Meutuah dan Batu Putih daerah Sungai Lueng.
Pasukan Jepang terus bergerak maju sampai ke Titi Kembar. Di Titi Kembar kembali mendapat perlawanan rakyat dengan memasang rintangan dari pepohonan disepanjang jalan, tujuannya adalah menghambat lajunya gerakan tentara Jepang memasuki Kota Langsa. Disaat tentara Jepang membuka rintangan, rakyat melakukan penyerangan dengan persenjataan yang lengkap, terpaksa pasukan rakyat mundur ke daerah perkampungan, sementara pasukan Jepang terus bergerak maju ke Kota Langsa.
Pasukan rakyat yang mundur sebagian menuju ke arah Selatan sampai ke Kebun Lama dan sebagian lagi ke arah Utara dan berkumpul di Meunasah Sei.Pauh dalam keadaan lapar dahaga.
Dalam pemeriksaan pasukan TKR dan rakyat diketahui beberapa anggota Palang Merah tidak hadir diduga mereka telah gugur. Kenyataannya benar bahwa komandan pasukan Palang Merah (Sdr. Mansur Bahar) bersama beberapa orang anggotanya tewas dalam kontak senjata disekitar Batu Putih - Titi Kembar.
Semangat Patriotisme rakyat untuk mengusir penjajah cukup meluap-luap walaupun dengan pengorbanan harta dan nyawa, hal ini terbukti beberapa hari setelah peristiwa di Titi Kembar pasukan TKR dan rakyat kembali bergabung di Birem Bayeun (± 5 Km dari Kota Langsa arah ke Barat), dipimpin oleh Kapten Hanafiah dan Tgk. Ismail Usman merencanakan penyerbuan ke Kota Langsa.
Dalam perjalanan menuju ke Kota Langsa mendapat informasi bahwa tentara Jepang telah meninggalkan Kota Langsa menuju Medan dengan membawa seluruh perbekalan. Pasukan TKR dan rakyat terus melanjutkan perjalanan memasuki Kota Langsa langsung ke pendopo dan bermarkas di pendopo. Setelah situasi normal seluruh pasukan dikembalikan ke induk pasukannya masing-masing.

PERJUANGAN MASA AGRESI

Rakyat Aceh walau dengan bersenjatakan bambu runcing, rencong serta senjata tajam lainnya, secara bahu membahu senantiasa berjuang menghadapi serangan militer Kolonial Belanda dengan tujuan untuk menjajah kembali.
Berdasarkan Radiogram panglima Sumatera (dikala itu dijabat oleh Mayor Jenderal Suharjowardoyo) meminta kepada pemimpin rakyat Aceh untuk memperkuat pertahanan Medan Area dan daerah Aceh sendiri, diharapkan agar Kota Medan direbut kembali.